Medali perak setelah emas, tetapi perjalanan belum berhenti

Kim Hong-yeol, yang dikenal di dunia breaking dengan nama Hongten, kembali naik podium Asian Games. Pada kompetisi putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Tokoname, Jepang, ia meraih medali perak setelah kalah 0-3 dari penari Jepang Shigeyuki Nakarai, yang lebih dikenal sebagai Shigekix.

Hasil itu berarti Hongten belum berhasil mengulang kemenangan pada Asian Games 2022, yang digelar pada 2023. Namun, perak kali ini membuatnya meraih medali dalam dua edisi Asian Games secara beruntun. Di usia awal 40-an, ia tetap mampu berhadapan dengan pesaing yang jauh lebih muda dan menghidupkan arena dengan gerakannya.

“Saya ingin perjalanan dan tantangan saya bisa menjadi sedikit keberanian dan harapan bagi seseorang.”

Penampilan yang mengutamakan kenikmatan, bukan hanya kemenangan

Hongten mengaku sempat kecewa karena datang dengan harapan membawa pulang emas. Ia bahkan mewarnai rambutnya menjadi pirang karena berharap mendapat “aura emas”. Namun, menurutnya, ia tetap berhasil mencapai sasaran penting lain: menikmati kompetisi sepenuhnya.

Pengalamannya di Asian Games sebelumnya terasa berbeda. Saat itu, tempat untuk tampil di Olimpiade Paris 2024 menjadi salah satu taruhannya, sehingga ia lebih berfokus pada hasil dan kemenangan. Kali ini, ia berusaha lebih leluasa mengikuti irama dan menikmati suasana di panggung.

Penonton menyambut penampilannya dengan sorak-sorai yang besar. Hongten mengatakan bahwa ia mungkin paling banyak tersenyum selama kompetisi kali ini. Sikap tersebut menunjukkan bahwa baginya, tampil baik bukan hanya soal memenangkan pertandingan, tetapi juga soal menikmati tarian dan berbagi energi dengan penonton.

Apa yang membuat breaking berbeda dari tarian biasa?

Breaking adalah tarian yang berakar dari budaya jalanan dan hip-hop. Dalam pertandingan, para penari tampil bergantian untuk menunjukkan rangkaian gerak, kreativitas, keterampilan, dan kesesuaian dengan musik. Penonton mungkin melihatnya seperti percakapan tanpa kata: seorang penari menyampaikan gerakan, lalu lawannya menjawab dengan gaya yang berbeda.

Salah satu bagian penampilan yang diperhatikan Hongten adalah toprock (gerakan yang dilakukan sambil berdiri, biasanya sebelum penari turun ke lantai). Setelah itu, penari dapat menyambungnya dengan gerakan lantai dan putaran yang membutuhkan koordinasi, kekuatan, serta keseimbangan. Hongten menyiapkan gerakan baru agar penampilannya menawarkan lebih banyak hal kepada penonton.

  • Irama dan ekspresi: gerakan perlu terasa selaras dengan musik, bukan sekadar cepat atau sulit.
  • Teknik tubuh: putaran dan gerakan lantai memerlukan kontrol serta latihan berulang.
  • Kreativitas: penari berusaha mengembangkan gaya dan susunan gerak yang terasa khas.
  • Respons terhadap lawan: karena tampil bergantian, penari perlu memperhatikan apa yang terjadi di panggung dan menanggapinya melalui tarian.

Persiapan fisik dan kesediaan mempelajari hal baru

Menjelang Asian Games, Hongten menjalani program latihan yang teratur di pusat pelatihan atlet nasional Korea Selatan di Jincheon. Ia melakukan latihan kekuatan pada pagi hari, berlatih menari pada siang hari, lalu melanjutkan latihan pribadi pada malam hari. Persiapan itu membantunya meningkatkan kondisi fisik untuk menghadapi pertandingan yang menuntut tenaga dan ketahanan.

Meski sudah memiliki pengalaman panjang, ia tidak hanya mengandalkan gerakan yang telah dikuasai. Hongten juga memperhatikan detail penampilan dan menambahkan gerakan baru. Baginya, mempersiapkan diri berarti menjaga kemampuan lama sekaligus mencari cara agar tetap berkembang.

Ia melihat gaya breaking terus berubah seiring munculnya generasi penari baru. Karena itu, ia berusaha tidak terpaku pada caranya sendiri dan tetap belajar dari anak-anak muda. Ia mengatakan proses tersebut justru membuat tarian terasa menarik dan menjadi salah satu alasan ia terus bertahan.

Bagi Hongten, mempelajari cara generasi muda menari bukan sekadar mengikuti tren. Hal itu menjadi salah satu sumber tenaga yang mendorongnya untuk terus menari.

Dari menari bersama teman hingga menjadi juara dunia

Hongten mulai mengenal breaking saat masih duduk di sekolah menengah pertama. Awalnya, ia menari bersama teman-temannya sebagai bagian dari kegiatan bersenang-senang. Seiring waktu, tarian itu membawanya bertemu orang-orang baru dan memberinya kesempatan untuk berkembang, hingga akhirnya menjadi bagian penting dari hidupnya.

Pada 2002, ia menjadi atlet Korea Selatan pertama yang memenangkan kompetisi dunia breaking. Ia juga menjuarai final Red Bull BC One, salah satu kompetisi paling bergengsi di dunia breaking, sebanyak tiga kali, yakni pada 2006, 2013, dan 2023. Pengalaman bertanding selama bertahun-tahun membuatnya menjadi sosok yang dikenal luas di komunitas breaking.

Namun, Hongten mengatakan kemenangan pertamanya di kompetisi dunia tetap menjadi salah satu kenangan yang paling kuat. Ia juga menganggap kesempatan bertanding di Asian Games sebagai pengalaman yang tidak akan dilupakan. Bagi seorang atlet, perjalanan panjang seperti itu bukan hanya kumpulan hasil pertandingan, melainkan juga rangkaian momen ketika latihan, kegagalan, dan keberhasilan bertemu.

Pesan bagi mereka yang merasa sudah terlambat

Penampilan Hongten di usia 40-an memberi gambaran bahwa seseorang masih dapat mengejar hal yang dicintainya setelah melewati usia yang biasanya dianggap sebagai puncak karier olahraga. Tentu saja, setiap orang memiliki kondisi dan batas yang berbeda. Namun, kisahnya menunjukkan bahwa usia tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti mencoba sebelum seseorang benar-benar memulai.

Ia ingin memberi semangat kepada orang-orang yang berpikir, “Saya tidak bisa” atau “Sekarang sudah terlambat.” Menurutnya, memulai sesuatu yang baru masih mungkin dilakukan ketika seseorang merasa telah kehilangan kesempatan. Ia juga menyampaikan pesan kepada sesama orang berusia 40-an: meskipun hidup terasa berat, hari-hari yang baik tetap bisa datang.

Hongten mengatakan bahwa ia sendiri pernah melewati masa-masa sulit, tetapi menari membantunya tersenyum kembali. Pengalaman itu membuat pesannya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari: seperti belajar keterampilan baru, kembali berolahraga, atau mencoba pekerjaan yang lama diinginkan, langkah pertama tidak harus langsung menghasilkan kemenangan.

Ingin memperkuat masa depan breaking Korea

Di samping perjalanan pribadinya, Hongten juga memikirkan masa depan breaking Korea Selatan. Ia berharap para penari Korea dapat kembali tampil kuat di tingkat internasional dan menyatakan siap membagikan pengalaman serta pengetahuannya kepada atlet yang lebih muda. Peran seperti itu penting dalam sebuah olahraga: atlet berpengalaman dapat membantu generasi berikutnya belajar dari latihan dan pertandingan yang telah mereka lalui.

Ia ingin dikenang bukan hanya karena medali, tetapi juga karena menjaga budaya dan nilai breaking, menikmati tarian, serta memberi pengaruh baik kepada penerusnya. Seusai Asian Games, ia sudah mulai bersiap menghadapi kompetisi berikutnya, yakni Festival Olahraga Nasional Korea Selatan.

Gagal mempertahankan emas tidak menghapus pencapaian Hongten. Medali perak keduanya secara beruntun, semangat untuk terus belajar, dan kesediaannya mendukung generasi berikutnya menjadi bagian penting dari kisahnya.