Paradoks Bantuan Internasional

Pemotongan anggaran besar-besaran pada Lembaga Bantuan Internasional Amerika Serikat (USAID) pada tahun 2025 telah memicu krisis kemanusiaan yang parah. Di Sudan Selatan, misalnya, sekitar 33 juta orang kini sangat membutuhkan bantuan akibat perang yang terus berlanjut.

Kanada juga mengambil langkah serupa dengan memangkas bantuan luar negeri sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi global. Meskipun banyak pihak menyesali keputusan ini, ada kenyataan pahit yang jarang diakui: sistem bantuan internasional sebenarnya dibangun di atas landasan ketimpangan global.

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, dalam pidatonya tahun 2026, mengakui bahwa cerita tentang 'tata tertib dunia yang adil' sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Cerita ini seringkali digunakan untuk menutupi sejarah kolonialisme yang masih berdampak hingga saat ini.


Sejarah Bahasa 'Pembangunan'

Istilah 'pembangunan' mulai populer setelah Perang Dunia II, terutama setelah pidato pelantikan Presiden AS Harry Truman pada tahun 1949. Dalam pidato tersebut, dunia dibagi menjadi dua kategori: negara maju dan negara berkembang (wilayah yang dianggap tertinggal secara ilmu pengetahuan dan industri).

Klasifikasi ini membentuk cara kerja organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, para kritikus berargumen bahwa konsep ini salah karena menganggap negara-negara miskin bisa 'mengejar' negara kaya hanya dengan mengikuti jalur yang sama, tanpa melihat penyebab utama kemiskinan mereka.

"Pembangunan seringkali dianggap sebagai janji yang tidak berkelanjutan karena mengabaikan akar penyebab ketimpangan ekonomi antarnegara."

Buku sebagai Alat Kekuasaan

Buku sering dianggap sebagai simbol kemajuan, namun dalam sejarah pembangunan, buku juga bisa menjadi alat yang merugikan. UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB) gencar mempromosikan literasi, tetapi dampaknya tidak selalu positif bagi negara yang baru merdeka.

  • Dominasi Penerbit Asing: Donasi buku dari negara Barat seringkali membuat industri penerbitan lokal di Afrika dan Karibia mati karena tidak bisa bersaing.
  • Ketergantungan: Negara-negara bekas jajahan dipaksa bergantung pada materi pendidikan dari mantan penjajah mereka.
  • Hilangnya Identitas: Buku-buku yang didonasikan seringkali tidak mencerminkan budaya atau kebutuhan lokal masyarakat setempat.

Di Kanada, program pengiriman buku ke negara-negara berkembang juga sempat dikritik karena menghambat penulis dan penerbit lokal di negara penerima bantuan.


Kolonialisme Internal dan Masyarakat Adat

Di dalam negeri Kanada sendiri, konsep pembangunan ini digunakan untuk menekan Masyarakat Adat. Program literasi dan pendidikan seringkali menjadi alat untuk memaksa mereka meninggalkan identitas aslinya dan mengikuti 'cara hidup Kanada'.

Salah satu tokoh penting, George Manuel, menjelaskan bahwa kemandirian politik tidak mungkin tercapai tanpa kemandirian ekonomi. Ia menekankan bahwa tanah adalah dasar utama dari ekonomi masyarakat adat, dan pengambilalihan tanah adalah hambatan terbesar bagi pembangunan mereka.

Kesimpulan Penting

Perubahan di tingkat pendidikan saja tidak cukup jika akar ketidakadilan struktural, seperti hak atas tanah, tidak diselesaikan. Bantuan internasional tidak boleh lagi hanya menjadi 'topeng' untuk menutupi kondisi politik dan ekonomi yang sebenarnya menciptakan kemiskinan tersebut.