Jadwal baru: pembukaan tahap pertama dan kedua kembali mundur
Pembangunan Jalur Metro 2 di Gwangju, Korea Selatan, kembali menghadapi penundaan. Pemerintah Kota Khusus Terpadu Jeonnam-Gwangju menyatakan pada 2 Oktober 2026 bahwa tahap pertama diperkirakan baru dapat beroperasi pada Desember 2028, mundur satu tahun dari sasaran sebelumnya, yaitu Desember 2027.
Tahap kedua mengalami penundaan yang lebih panjang. Target pembukaannya bergeser dari Desember 2030 menjadi Desember 2035, atau mundur lima tahun. Dengan perubahan ini, pembangunan proyek metro tersebut diperkirakan berlangsung lebih dari satu dekade sejak pekerjaan konstruksi dimulai.
Peninjauan terbaru menunjukkan bahwa jadwal lama tidak cukup memperhitungkan pekerjaan konstruksi dan rangkaian pengujian yang harus selesai sebelum kereta dapat mengangkut penumpang.
Ini merupakan pengumuman penundaan yang keempat untuk proyek Jalur Metro 2. Perubahan jadwal berulang dapat memengaruhi warga yang menunggu pilihan transportasi baru, sekaligus memperpanjang masa pekerjaan di jalan-jalan yang dilalui proyek.
Jalur lingkar sepanjang sekitar 37 kilometer
Jalur Metro 2 dirancang sebagai jalur lingkar, yaitu rute yang membentuk putaran dan menghubungkan berbagai kawasan kota. Secara keseluruhan, jalur ini direncanakan memiliki panjang sekitar 37 kilometer dan dibagi menjadi dua tahap pembangunan.
Tahap pertama membentang sekitar 17 kilometer di bagian selatan Gwangju. Rutenya menghubungkan kawasan Stasiun Gwangju, Stasiun Namgwangju, persimpangan Baegun, Stadion Piala Dunia, Balai Kota Gwangju, hingga depo kereta—fasilitas untuk menyimpan dan merawat kereta.
Tahap kedua direncanakan sepanjang sekitar 20 kilometer di bagian utara. Rute ini menghubungkan depo, Stasiun Geungnakgang, kawasan Suwan dan Cheomdan, kawasan Ilgok, Universitas Nasional Chonnam, hingga kembali ke Stasiun Gwangju.
- Tahap pertama mencakup ruas konstruksi nomor 1 hingga 6 dan mulai dibangun pada Oktober 2019.
- Tahap kedua mencakup ruas nomor 7 hingga 14 dan mulai dibangun pada Januari 2024.
- Jika selesai, jalur lingkar ini akan menghubungkan kawasan selatan dan utara melalui beberapa pusat kegiatan kota.
Dalam praktiknya, jalur lingkar dapat memberi penumpang pilihan perjalanan yang tidak selalu harus melewati pusat kota. Sebagai contoh, warga yang bepergian dari satu kawasan permukiman ke kawasan lain mungkin dapat berpindah jalur atau mencapai tujuan dengan rute yang lebih langsung, bergantung pada lokasi stasiun dan jaringan transportasi yang tersedia.
Kondisi bawah tanah dan pekerjaan yang saling bergantung
Menurut pemerintah kota, tahap pertama tertunda antara lain karena ditemukan lapisan batuan yang tidak diperkirakan sebelumnya dan berbagai instalasi bawah tanah yang menghalangi pekerjaan. Pipa, kabel, dan fasilitas lain yang tertanam di bawah jalan dapat membuat penggalian harus dilakukan lebih hati-hati atau membutuhkan penyesuaian rencana.
Pembangunan jalur metro juga tidak berhenti setelah terowongan dan stasiun selesai. Pekerjaan bangunan, pemasangan mesin, listrik, komunikasi, sistem persinyalan (perangkat yang mengatur pergerakan dan jarak aman kereta), serta pembuatan dan pengujian kereta perlu diselesaikan secara berurutan dan saling terhubung.
Karena itu, penyelesaian satu bagian konstruksi belum otomatis berarti jalur siap dibuka. Sistem listrik dan persinyalan, misalnya, harus bekerja dengan aman bersama kereta dan peron. Setelah pemasangan, rangkaian sistem tersebut perlu diuji, termasuk untuk memastikan kereta dapat beroperasi sesuai jadwal dan prosedur keselamatan.
Pemerintah kota mengatakan penyesuaian target tahap pertama didasarkan pada pemeriksaan menyeluruh terhadap rangkaian pekerjaan tersebut. Artinya, jadwal baru tidak hanya memperhitungkan penggalian, tetapi juga pekerjaan lanjutan yang diperlukan agar layanan penumpang bisa dimulai.
Hambatan tahap kedua dan kenaikan anggaran
Penundaan tahap kedua berkaitan dengan sejumlah kendala berbeda. Di ruas nomor 7 dan 10, lebar jalan yang terbatas diperkirakan menyulitkan pekerjaan. Kondisi itu membuat pemerintah belum dapat memilih kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan di kedua ruas tersebut.
Sementara itu, sebagian rute di ruas nomor 13 berubah dan masih dalam proses perancangan ulang. Perubahan rute biasanya memerlukan penyesuaian pada rancangan konstruksi dan perencanaan pekerjaan, sehingga dapat memengaruhi urutan serta waktu pelaksanaan proyek.
Anggaran pembangunan juga meningkat tajam. Perkiraan awal sebesar 1,7394 triliun won kini menjadi 3,243 triliun won. Kenaikan sekitar 1,5036 triliun won, atau 66,6 persen, berarti proyek membutuhkan dana hampir dua kali lipat dibandingkan rencana pertamanya.
Perubahan jadwal dan biaya memperlihatkan besarnya tantangan dalam proyek transportasi bawah tanah: kondisi lapangan, desain, pembangunan, serta sistem operasi harus dikelola sebagai satu rangkaian.
Kenaikan anggaran dan jadwal yang lebih panjang membuat pengawasan biaya serta perkembangan pekerjaan menjadi penting. Namun, informasi yang tersedia belum merinci bagian mana dari kenaikan tersebut yang berasal dari setiap kendala, sehingga penyebabnya tidak dapat dibagi lebih jauh berdasarkan angka yang diumumkan.
Sebagian jalur tahap kedua bisa beroperasi lebih awal
Untuk mengurangi waktu tunggu warga, pemerintah kota berencana membuka sebagian tahap kedua sebelum keseluruhan jalur selesai. Ruas dari kawasan Yangsan-dong menuju kawasan Cheomdan, Suwan, dan Singa mencakup bagian konstruksi nomor 11 hingga 14.
Bagian tersebut memiliki panjang 11,9 kilometer dan mencakup sembilan stasiun. Pemerintah memperkirakan ruas ini dapat mulai beroperasi pada April 2034, sekitar satu tahun lebih awal daripada target penyelesaian seluruh tahap kedua pada Desember 2035.
Sebelum layanan kereta dimulai, pemerintah juga menargetkan jalan di sepanjang ruas yang sama dapat dibuka kembali paling lambat pada 2030. Pembukaan jalan dapat mengurangi sebagian gangguan lalu lintas bagi warga dan pengendara, meskipun hal itu tidak berarti layanan metro di lokasi tersebut sudah tersedia.
Pembukaan sebagian jalur merupakan langkah bertahap: manfaat transportasi dapat hadir lebih awal di sejumlah kawasan, tetapi warga di ruas lain tetap harus menunggu penyelesaian tahap kedua. Seberapa besar manfaatnya akan bergantung pada kemudahan perpindahan ke moda transportasi lain dan keterhubungan stasiun dengan lingkungan sekitarnya.
Pengelolaan proyek menjadi sorotan berikutnya
Kepala Kantor Pembangunan Metro Kota, Park Geum-hwa, mengatakan bahwa pemerintah akan mengelola jadwal dan anggaran secara terpadu serta memberi perhatian khusus pada pekerjaan-pekerjaan utama. Pemerintah menyatakan peninjauan kali ini akan digunakan untuk mendorong proyek berjalan sesuai rencana yang telah diperbarui.
Hal yang perlu dipantau berikutnya mencakup pemilihan kontraktor untuk ruas yang terkendala, penyelesaian rancangan ulang ruas nomor 13, perkembangan pekerjaan bawah tanah, dan kesiapan pengujian kereta. Perubahan pada salah satu bagian dapat berpengaruh pada bagian lain karena sistem rel, listrik, komunikasi, persinyalan, dan kereta harus siap bersama-sama.
Bagi warga, jadwal baru memberikan gambaran yang lebih jelas, tetapi juga berarti penantian lebih panjang. Tahap pertama kini ditargetkan beroperasi pada 2028, sebagian ruas tahap kedua pada 2034, dan seluruh tahap kedua pada 2035. Kepastian akhir akan bergantung pada kemampuan pemerintah mengendalikan hambatan lapangan, kontrak pekerjaan, biaya, dan tahapan pengujian.




















