Asian Games ke-20 berakhir pada hari Minggu di Nagoya, Jepang tengah. Selama 16 hari, sekitar 10.000 atlet dan ofisial dari 45 negara bersaing untuk memperebutkan 469 medali emas dalam 43 cabang olahraga dan 71 nomor pertandingan. Korea menempati peringkat ketiga dalam klasemen medali dengan 39 medali emas, 43 perak, dan 68 perunggu, sementara Jepang sebagai tuan rumah meraih 83 medali emas, jumlah terbanyak sepanjang sejarah Asian Games. China mendominasi ajang ini dengan 169 medali emas dan total 341 medali.

Latar belakang dan konteks

Ajang ini adalah Asian Games Aichi-Nagoya, yang namanya menggabungkan Prefektur Aichi dan Nagoya, ibu kota prefektur tersebut. Ini merupakan Asian Games ketiga yang diselenggarakan di Jepang. Pertandingan berlangsung di seluruh Prefektur Aichi dan beberapa wilayah di luar prefektur. Untuk menekan biaya, penyelenggara terutama memanfaatkan arena yang sudah ada dan arena hasil pembangunan kembali.

Slogan ajang ini adalah “Imagine One Asia”. Pada upacara penutupan, peraih medali emas panjat tebing olahraga Seo Chae-hyun memasuki arena dengan membawa bendera Korea, sementara Jasim Al-Kuwari, atlet tim nasional berkuda Qatar, tampil di panggung dengan membawa bendera Dewan Olimpiade Asia (아시아올림픽평의회, OCA). Ajang berikutnya dijadwalkan berlangsung di Doha, Qatar, pada 2030. Namun, ada pula laporan bahwa Dewan Olimpiade Asia (OCA) sedang mempertimbangkan untuk menggeser penyelenggaraannya ke 2031 demi meningkatkan gengsi dan daya saing ajang tersebut, sehingga kemungkinan jeda sebenarnya berubah masih terbuka.

Arti berita ini

Peringkat ketiga Korea menunjukkan pencapaian total medalinya, tetapi jika hanya menghitung medali emas, 83 medali emas Jepang jauh melampaui 39 medali emas Korea. Jepang mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, sementara China menonjol dalam jumlah medali emas maupun total medali. Karena itu, saat menilai hasil kali ini, melihat komposisi medali emas, perak, dan perunggu serta hasil masing-masing negara, alih-alih hanya melihat satu peringkat, akan membantu memahami pencapaian ajang ini secara lebih konkret.

Namun, penyelenggaraan ajang tidak dapat dinilai hanya berdasarkan rekor medali. Ajang ini terus mendapat kritik terkait masalah seperti kurangnya akomodasi atlet dan gangguan transportasi. Meski ada keputusan untuk memanfaatkan fasilitas yang sudah ada guna menekan biaya, patut dicermati bahwa karena lokasi pertandingan tersebar di seluruh prefektur dan beberapa wilayah di luar prefektur, masalah transportasi peserta dan akomodasi dapat menjadi tolok ukur penting dalam menilai penyelenggaraan.

Sebagai contoh, jika seorang atlet harus bolak-balik antara lokasi pertandingan yang berjauhan, gangguan transportasi dapat membebani persiapan dan perjalanan menuju pertandingan. Ini adalah asumsi yang didasarkan pada fakta bahwa masalah transportasi disebut dalam kritik terhadap ajang tersebut; laporan yang tersedia tidak memastikan dampak nyata yang dialami atlet tertentu.

Setelah final sepak bola yang digelar menjelang penutupan, muncul pula laporan mengenai kontroversi penyelenggaraan tersendiri. Dalam upacara penyerahan medali saat Korea menjadi juara setelah mengalahkan Jepang, terjadi situasi seolah-olah bendera Korea tersangkut di tiang bendera. Menurut artikel yang mengutip laporan media Korea, bendera baru dikibarkan dengan benar setelah lagu kebangsaan selesai dimainkan. Kapten tim nasional Korea, Lee Ki-hyeok, dilaporkan mengatakan bahwa ia kecewa karena upacara penyerahan medali tidak berlangsung sebagaimana mestinya. Kasus ini menunjukkan bahwa, terlepas dari hasil pertandingan, prosedur ajang seperti upacara penyerahan medali juga dapat dianggap penting oleh negara peserta dan penonton.

Fakta yang terkonfirmasi dan hal yang belum diketahui

Fakta yang terkonfirmasi

  • Ajang berakhir pada hari Minggu di Nagoya, dengan sekitar 10.000 atlet dan ofisial dari 45 negara berpartisipasi selama 16 hari.
  • Para peserta bersaing untuk memperebutkan 469 medali emas dalam 43 cabang olahraga dan 71 nomor pertandingan.
  • Korea menempati peringkat ketiga dengan 39 medali emas, 43 perak, dan 68 perunggu; China meraih 169 medali emas dan total 341 medali.
  • Jepang meraih 83 medali emas, jumlah terbanyak sepanjang sejarah Asian Games.
  • Kurangnya akomodasi atlet dan gangguan transportasi memicu kritik terhadap penyelenggaraan ajang.

Hal yang belum diketahui

  • Laporan yang tersedia tidak menjelaskan secara terperinci atlet mana saja selain Seo Chae-hyun dan Jasim Al-Kuwari yang mendapat sorotan dalam upacara penutupan, atau bagaimana para sukarelawan diperkenalkan.
  • Terbukti bahwa Seo Chae-hyun adalah peraih medali emas sekaligus pembawa bendera dalam upacara penutupan, tetapi pencapaian spesifik dalam pertandingan atau peran tambahan yang mungkin hendak disebutkan dalam bagian akhir naskah asli yang terpotong tidak dapat dipastikan.
  • Belum dipastikan apakah ajang berikutnya akan berlangsung di Doha pada 2030 atau jadwalnya akan diubah menjadi 2031.
  • Laporan tidak menyebutkan bagaimana penyelenggara akan mengatasi masalah akomodasi dan transportasi, maupun perubahan apa yang akan dilakukan dalam penyelenggaraan ajang mendatang.

Hal yang perlu diperhatikan pembaca

  • Saat melihat klasemen medali, membedakan jumlah total medali dari jumlah medali emas dapat membantu memahami arti peringkat ketiga Korea dan rekor medali emas Jepang.
  • Karena jadwal Asian Games berikutnya disebut berpeluang berlangsung pada 2030 atau 2031, perlu mencermati pengumuman selanjutnya untuk mengetahui apakah perubahan jadwal sudah dipastikan.
  • Dalam laporan mendatang mengenai ajang ini, pembaca dapat mencermati langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi masalah transportasi antara akomodasi atlet dan arena pertandingan. Hal itu dapat menjadi tolok ukur untuk menilai apakah tantangan penyelenggaraan yang berulang kali disoroti dalam ajang ini telah diperbaiki.

Referensi