Emas untuk pelayar berusia 15 tahun
Choi Ji-un, siswa kelas 3 sekolah menengah pertama yang berusia 15 tahun, meraih medali emas nomor dinghy putra junior pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Ia naik ke podium tertinggi pada 3 Oktober di Pelabuhan Layar Kaiyo, Gamagori, Prefektur Aichi, Jepang.
Kemenangan ini menandai pencapaian penting bagi Korea Selatan. Negara itu kembali memenangi emas nomor layar junior Asian Games setelah menunggu 12 tahun, sejak Park Seong-bin meraih gelar pada nomor Optimist U-16 di Asian Games Incheon 2014.
“Saya ingin menjadi Ronaldo-nya dunia layar,” kata Choi, yang juga menikmati bermain sepak bola dan gim bersama teman-temannya.
Perjalanan menuju podium tertinggi
Kejuaraan layar tidak ditentukan hanya oleh satu balapan. Dalam kompetisi ini, para peserta mengikuti 12 balapan, dan hasil setiap balapan diubah menjadi poin penalti berdasarkan urutan finis: peringkat pertama mendapat satu poin, peringkat kedua mendapat dua poin, dan seterusnya.
Poin dari dua balapan terburuk seorang atlet tidak dihitung dalam nilai akhir. Karena itu, pemenang adalah atlet dengan jumlah poin tersisa paling rendah—mirip seperti nilai ujian ketika dua hasil terendah dikeluarkan dari perhitungan.
Choi mengumpulkan 25 poin dan bertahan di posisi pertama. Ia memenangi balapan kedua dan keempat, lalu terus mengumpulkan hasil yang kuat sepanjang kompetisi.
Persaingan sempat menjadi lebih berat ketika hasilnya berada di posisi keempat pada balapan kedelapan hingga kesepuluh. Namun, ia kembali memenangi balapan kesebelas dan finis kedua pada balapan terakhir, sehingga mampu memastikan medali emas.
Mengapa konsistensi sangat penting
Dalam layar, hasil satu balapan yang buruk tidak selalu langsung mengakhiri peluang seorang peserta. Aturan penghapusan dua hasil terburuk memberi ruang untuk pulih, tetapi atlet tetap perlu tampil stabil di sebagian besar balapan agar jumlah poinnya tidak membengkak.
Strategi juga harus menyesuaikan keadaan di laut. Arah angin, ombak, dan posisi perahu pesaing dapat berubah, sehingga pelayar perlu membaca situasi dan mengambil keputusan cepat—seperti memilih jalur yang lebih menguntungkan saat kondisi lalu lintas berubah.
Apa itu nomor dinghy?
Dinghy adalah jenis perahu layar kecil yang biasanya digunakan dalam perlombaan dengan satu atau beberapa atlet di dalamnya. Pelayar mengandalkan layar untuk menangkap angin, sementara kemudi dan posisi tubuh membantu mengarahkan perahu serta menjaga keseimbangan.
Berbeda dengan perlombaan lari di lintasan yang batas jalurnya tetap, kompetisi layar berlangsung di perairan terbuka. Para atlet perlu memperhitungkan perubahan angin dan ombak, sekaligus memilih rute yang memberi peluang terbaik untuk mencapai garis finis.
Nomor junior disertakan dalam Asian Games untuk membantu mengembangkan kemampuan atlet muda di Asia. Kehadiran kelompok usia ini memberi pelayar muda kesempatan bertanding di panggung internasional dan mengukur kemampuan mereka melawan peserta dari negara lain.
Dari rekomendasi guru hingga tim nasional
Choi mulai mengenal layar ketika duduk di kelas tiga sekolah dasar. Seorang guru olahraga merekomendasikan olahraga itu kepadanya, dan pengalaman awal tersebut berkembang menjadi jalur prestasi yang membawanya ke kompetisi internasional.
Pada 2025, ia untuk pertama kalinya tampil sebagai anggota tim nasional di Kejuaraan Asia di Qinhuangdao, Tiongkok, dan menempati posisi kelima. Hasil itu menjadi salah satu tanda bahwa pelayar muda tersebut mampu bersaing di tingkat kawasan.
Pada 2026, Choi menambah koleksi prestasinya dengan meraih emas Piala Asia U-16 di Penghu, Taiwan, serta medali perunggu di Asian Beach Games Sanya. Emas Asian Games kini menjadi pencapaian besar berikutnya dalam perjalanan kariernya yang masih berada di tahap awal.
Tonggak bagi layar Korea Selatan
Emas Choi bukan hanya keberhasilan seorang atlet muda. Hasil tersebut juga mengakhiri penantian Korea Selatan selama 12 tahun untuk kembali meraih emas di nomor layar junior Asian Games, sekaligus menunjukkan bahwa atlet usia sekolah dapat bersaing di ajang besar.
Perjalanan menuju level tertinggi tetap membutuhkan latihan rutin, pengalaman menghadapi kondisi laut yang berbeda, dan kemampuan menjaga konsentrasi selama rangkaian balapan. Bagi Choi, kemenangan ini dapat menjadi bekal untuk menghadapi kompetisi yang lebih ketat seiring bertambahnya pengalaman.
Tantangan berikutnya
Hasil di ajang junior tidak otomatis menjamin prestasi di tingkat senior. Persaingan yang lebih kuat dan kondisi perlombaan yang beragam akan menguji perkembangan teknik serta pengambilan keputusan Choi pada tahun-tahun mendatang.
Namun, rangkaian prestasinya—mulai dari peringkat kelima di Kejuaraan Asia 2025, emas dan perunggu pada 2026, hingga emas Asian Games—memberinya dasar yang kuat untuk terus berkembang. Ambisinya menjadi “Ronaldo-nya dunia layar” kini memiliki awal yang nyata: kemenangan penting yang diraih lewat ketekunan, pemulihan setelah hasil kurang baik, dan fokus sampai balapan terakhir.



















