Gaza: satu nama, banyak lapisan kehancuran
Beberapa pertanyaan membawa pembaca pada satu tempat yang sama: di mana banyak anak kehilangan anggota tubuh akibat perang, pekerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) paling banyak tewas dalam konflik, dan sebagian besar tumbuhan rusak dalam waktu kurang dari setahun? Jawaban yang disorot dalam buku Suara Gaza adalah Gaza, wilayah Palestina yang telah berulang kali menjadi pusat kekerasan dan krisis kemanusiaan.
Buku ini tidak hanya membahas korban jiwa. Kerusakan sekolah, rumah, lahan pertanian, habitat satwa, dan fasilitas umum ikut membentuk gambaran tentang bagaimana perang mengubah seluruh ruang hidup masyarakat. Salah satu gambaran yang melekat ialah seorang anak yang duduk bersama seekor anjing di antara reruntuhan di Rafah, Gaza selatan.
Angka-angka kerusakan yang dibahas dalam buku tersebut disajikan sebagai bagian dari kesaksian dan laporan yang dikumpulkan para kontributornya. Angka itu membantu menunjukkan skala bencana, tetapi di balik setiap angka terdapat kehidupan nyata: keluarga yang kehilangan rumah, anak yang tak bisa belajar, pasien yang sulit dirawat, dan masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan.
Gaza bukan hanya tempat terjadinya kekerasan. Gaza juga merupakan rumah bagi manusia, hewan, lingkungan, ingatan, dan harapan yang ikut terdampak.
Buku yang mengumpulkan banyak suara
Suara Gaza menghimpun catatan 23 orang, termasuk penulis, dokter, guru, aktivis hak asasi manusia, akademisi, dan jurnalis. Di antara nama yang berkontribusi ialah Joe Sacco, yang dikenal melalui karya komik jurnalistik tentang Palestina. Dengan latar belakang yang berbeda-beda, para kontributor melihat kehidupan di Gaza dari sudut yang saling melengkapi.
Kumpulan kesaksian semacam ini penting karena satu jenis laporan saja sering tidak cukup untuk menjelaskan dampak perang. Dokter dapat menggambarkan kondisi pasien dan layanan kesehatan, guru dapat menunjukkan apa yang terjadi pada pendidikan anak, sementara jurnalis dan aktivis mencatat bagaimana informasi dan hak warga dipertaruhkan. Jika disatukan, pengalaman tersebut membentuk potret yang lebih utuh daripada sekadar daftar bangunan yang hancur.
Buku itu juga menempatkan tulisan sebagai upaya melawan pelupaan. Bagi orang yang hidup di wilayah yang diblokade dan mengalami kekerasan, mendokumentasikan kejadian dapat menjadi salah satu cara untuk membuat dunia mengetahui apa yang mereka alami. Bagi pembaca di tempat lain, membaca kesaksian berarti memberi perhatian pada kehidupan yang mungkin hanya muncul sebentar dalam berita.
Mengapa kesaksian pribadi penting
Kesaksian tidak menggantikan penyelidikan atau verifikasi fakta. Namun, cerita dari orang yang mengalami langsung peristiwa dapat menjelaskan hal-hal yang sulit ditangkap oleh angka, misalnya bagaimana sebuah keluarga bertahan tanpa rumah atau bagaimana seorang dokter tetap merawat pasien ketika keselamatannya sendiri terancam.
Mengingat dan menyampaikan pengalaman korban juga menjadi penting ketika perhatian publik mudah berpindah ke peristiwa lain. Tanpa dokumentasi, orang yang tewas atau kehilangan tempat tinggal berisiko hanya dikenang sebagai statistik, bukan sebagai manusia dengan nama, keluarga, dan kehidupan.
Kekerasan terhadap manusia dan budaya penghinaan
Mary Turfah, seorang jurnalis dan dokter bedah keturunan Palestina yang tinggal di Amerika Serikat, menulis tentang sikap kebencian terhadap warga Palestina yang ia temukan dalam perilaku sebagian tentara Israel dan ruang digital. Dalam catatan yang dibahas buku tersebut, penghinaan terhadap korban digambarkan bukan sebagai tindakan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari budaya yang lebih luas.
Kesaksian itu menyebut video tentara yang merekam diri di tengah bangunan yang hancur, merayakan penghancuran rumah, atau berpose di dalam rumah warga yang telah mereka duduki. Ada pula unggahan yang memperlihatkan tindakan merendahkan barang-barang milik perempuan dan anak. Perilaku seperti ini menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana penderitaan warga sipil bisa dijadikan bahan pameran atau hiburan?
Buku tersebut juga menyoroti penyebaran gambar korban di media sosial dan aplikasi percakapan. Dalam beberapa contoh yang dicatat Turfah, penderitaan warga Palestina bahkan dijadikan bahan olok-olok. Yang dianggap mengerikan bukan hanya gambar kekerasannya, melainkan juga sikap gembira atau tanpa rasa bersalah yang menyertainya.
Peringatan yang disampaikan dalam kesaksian itu: kekerasan menjadi lebih mengkhawatirkan ketika penderitaan manusia diperlakukan sebagai sesuatu yang pantas dirayakan atau dijadikan lelucon.
Catatan tersebut tidak menyatakan bahwa setiap orang atau setiap anggota militer berperilaku demikian. Namun, dengan mengumpulkan contoh-contoh yang dilaporkan, buku ini meminta pembaca melihat bagaimana bahasa, gambar, dan kebiasaan daring dapat mengikis rasa kemanusiaan terhadap kelompok yang menjadi sasaran.
Kerusakan lingkungan yang melampaui batas wilayah
Perang juga meninggalkan dampak yang tidak berhenti pada bangunan yang rusak. Dalam tulisan berjudul tentang ekosida Palestina, jurnalis Nina Lakhani menggambarkan kehancuran ekosistem Gaza sejak Oktober 2023. Ekosida berarti kerusakan lingkungan berskala luas yang menghancurkan ekosistem dan mengancam kehidupan manusia maupun makhluk lain.
Menurut angka yang dikutip dalam buku, pada sekitar Juni 2024, 83 persen tutupan tumbuhan dan 70 persen lahan pertanian di Gaza telah rusak. Puing-puing bangunan diperkirakan mencapai 42 juta ton. Di antara puing tersebut terdapat limbah berbahaya dan jenazah, yang dapat mencemari udara, tanah, serta air bawah tanah.
Dampak seperti ini menyerupai masalah yang dialami sebuah kota ketika sampah beracun menumpuk di dekat rumah, tetapi dengan skala yang jauh lebih besar dan kondisi yang membuat penanganannya sangat sulit. Ketika tanah pertanian tercemar atau tertutup reruntuhan, warga bukan hanya kehilangan panen saat ini; mereka juga kehilangan kemampuan untuk menanam dan membangun kembali kehidupan pada masa depan.
Dampak lingkungan dapat melampaui Gaza. Polusi yang masuk ke tanah dan air berpotensi menyebar, sementara kerusakan habitat mengganggu keseimbangan alam. Buku itu juga mengutip perkiraan bahwa emisi gas rumah kaca dari serangan udara dan operasi darat selama 120 hari pertama setelah Oktober 2023 lebih besar daripada jejak karbon tahunan gabungan 21 negara yang rentan terhadap perubahan iklim.
Tanah sebagai bagian dari masa depan
Kerusakan lahan memiliki arti khusus bagi warga yang ingin kembali ke rumah dan membangun hidup setelah perang. Jika rumah, kebun, sumber air, dan lahan pertanian musnah, kepulangan tidak serta-merta berarti kehidupan dapat dipulihkan. Reruntuhan dapat mengubah kampung halaman menjadi tempat yang sulit dihuni, bahkan setelah pertempuran berhenti.
Buku ini menghubungkan kehancuran tersebut dengan ancaman terhadap masa depan masyarakat Palestina. Dalam salah satu pernyataan yang dikutip, seorang pejabat militer Israel menyebut bahwa siapa pun yang kembali akan menemukan tanah yang telah diratakan dan tidak memiliki rumah maupun lahan untuk bertani. Pernyataan itu memperkuat pertanyaan yang diajukan para kontributor: apakah kerusakan tanah turut menghancurkan harapan untuk kembali?
Hewan dan burung juga kehilangan habitat
Kehancuran ekologis tidak hanya memengaruhi manusia. Gaza berada di jalur migrasi burung yang menghubungkan Afrika, Asia, dan Eropa. Kawasan tersebut pernah menjadi lintasan bagi beragam jenis burung, tetapi catatan dalam buku menyebut bahwa sejak invasi pada 2023, 250 jenis burung menghadapi ancaman kepunahan.
Hilangnya habitat dapat mengganggu perjalanan burung yang bergantung pada tempat singgah untuk mencari makan dan beristirahat. Dampaknya bisa menjalar jauh dari wilayah konflik karena burung bermigrasi melintasi banyak negara. Seperti batu kecil yang mengganggu aliran sungai, kerusakan pada satu lokasi penting dapat memengaruhi sistem kehidupan yang lebih luas.
Buku itu juga mempertanyakan sikap organisasi perlindungan hewan internasional yang, menurut salah satu tulisannya, tidak memberikan perhatian yang sama terhadap kehancuran di Gaza seperti yang mereka tunjukkan pada isu lain. Kritik tersebut menyoroti kemungkinan penggunaan citra ramah lingkungan sebagai bagian dari hasbara, yaitu upaya komunikasi dan propaganda untuk membentuk pandangan publik agar lebih mendukung Israel.
Respons publik dan tekanan ekonomi
Di tengah kehancuran, buku ini juga mencatat meningkatnya dukungan bagi gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS). Divestasi berarti menarik investasi dari perusahaan atau pemerintah tertentu; dalam gerakan BDS, langkah-langkah tersebut digunakan untuk menekan Israel agar mengubah kebijakannya terhadap Palestina.
Omar Barghouti, aktivis hak asasi manusia Palestina yang turut dibahas dalam buku, menyebut dukungan terhadap gerakan tersebut bertambah di berbagai tempat. Catatan yang dikutip mencakup keputusan Kota Alameda di California untuk melarang investasi pada perusahaan senjata Israel dan bahan bakar fosil, serta tekanan serikat pekerja Norwegia agar dana pensiun negara menarik kepemilikan obligasi Israel senilai sekitar 500 juta dolar AS.
Buku itu juga menyebut Intel menghentikan rencana pembangunan pabrik baru di Israel dan investasi modal ventura pada perusahaan Israel turun 75 persen setelah perang di Gaza dimulai pada 2023. Angka dan contoh tersebut menggambarkan bagaimana warga, pekerja, dan lembaga keuangan berusaha menggunakan keputusan ekonomi sebagai bentuk tekanan politik.
Namun, boikot dan penarikan investasi bukan pengganti bantuan kemanusiaan, perlindungan warga sipil, atau penyelesaian politik. Pengaruhnya bergantung pada seberapa luas dukungan publik, konsistensi penerapan, serta tanggapan perusahaan dan pemerintah. Karena itu, gerakan tersebut menjadi bagian dari perdebatan yang lebih besar mengenai tanggung jawab konsumen dan lembaga keuangan terhadap konflik.
Harapan yang tetap hidup di tengah reruntuhan
Di tengah gambaran kehancuran, Suara Gaza tidak hanya memuat duka. Buku ini juga menggambarkan tindakan sehari-hari yang menunjukkan kepedulian dan keteguhan: seseorang berbagi makanan dengan kucing liar dan keledai, dokter tetap merawat pasien meski berada dalam bahaya, anak-anak belajar di tengah puing, dan jurnalis kembali melaporkan keadaan meskipun pekerja media juga menghadapi risiko.
Penyair Palestina Mahmoud Darwish pernah menulis tentang mencintai kehidupan selama masih mungkin melakukannya. Gagasan itu hadir dalam kisah-kisah buku ini sebagai bentuk perlawanan terhadap upaya merampas martabat manusia. Merawat pasien, mengajar anak, memberi makan hewan, dan mencatat kejadian mungkin tampak sebagai tindakan kecil, tetapi semuanya menjaga hubungan antarmanusia ketika kehidupan sehari-hari telah dihancurkan.
Membaca sebagai tindakan mengingat
Buku ini mengajak pembaca untuk terus mendengarkan kesaksian dari Gaza, bukan karena membaca dapat langsung menghentikan kekerasan, melainkan karena perhatian publik menentukan apa yang tetap diingat. Membaca juga membantu orang memahami bahwa perang tidak hanya menghancurkan tubuh dan rumah, tetapi dapat merusak pendidikan, lingkungan, satwa, mata pencaharian, dan harapan untuk kembali.
Bagi banyak warga Palestina, pengalaman kehilangan dan pengusiran memiliki akar sejarah yang panjang. Nakba, kata Arab yang berarti “malapetaka”, merujuk pada pengusiran besar-besaran warga Palestina sekitar berdirinya Israel pada 1948. Dengan mengingat sejarah itu bersama kesaksian masa kini, buku ini menempatkan penderitaan di Gaza dalam rangkaian pengalaman yang lebih luas, tanpa menghapus kekhasan kisah setiap orang.
Selama warga Gaza masih menulis tentang kehidupan mereka, pembaca di tempat lain dapat memilih untuk mendengarkan, mengingat, dan menunjukkan solidaritas.
Pesan akhirnya sederhana, tetapi menuntut ketekunan: terus membaca kesaksian, memastikan korban tidak lenyap dari ingatan, dan menaruh perhatian pada nasib manusia serta alam yang terdampak. Seruan itu berlaku selama penderitaan belum berakhir dan selama kehidupan masyarakat Palestina masih dirampas oleh kekerasan.



















