Pada tanggal 4, Korea Utara mengumumkan bahwa sehari sebelumnya, pada dini hari tanggal 3, mereka menggelar latihan peluncuran rudal dari wilayah timur ke arah Laut Timur, dengan disaksikan oleh Ketua Komisi Urusan Negara Kim Jong Un. Media Korea Utara melaporkan bahwa rudal itu mengenai titik sasaran yang telah ditetapkan sejauh 1.000 km di Laut Timur. Kim Jong Un mengatakan tujuan latihan tersebut adalah untuk semakin meningkatkan daya tangkal terhadap perang nuklir dan menyatakan bahwa pandangan serta kebijakannya tidak berubah. Pengumuman ini muncul tak lama setelah Korea Utara menolak tawaran dialog antar-Korea.
Jarak tempuh dan kinerja rudal tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan pengumuman Korea Utara. Hasil pelacakan Korea Selatan dan Jepang juga dibantah oleh Korea Utara, sehingga angka yang diumumkan perlu dibedakan dari fakta yang telah diverifikasi secara independen.
Latar belakang dan konteks
Latihan ini berlangsung ketika sinyal dialog antara kedua Korea tengah dipertukarkan. Dalam pidatonya pada 1 Oktober untuk memperingati Hari Angkatan Bersenjata, Presiden Lee Jae-myung menyerukan dialog kepada Korea Utara dan mengatakan bahwa ia akan terus mengambil langkah nyata untuk mengurangi ketegangan militer. Namun, pada 2 Oktober, Kim Yo Jong, Direktur Departemen Umum Partai Buruh Korea (노동당 총무부장), menolak tawaran dialog pemerintah Korea Selatan terkait insiden ledakan ranjau. Dalam pernyataannya, ia mengatakan tidak akan membiarkan adanya peluang untuk menjalin hubungan atau berurusan dengan Korea Selatan.
Keesokan harinya, Korea Utara menggelar latihan rudal. Kim Yo Jong mengumumkan latihan itu sekaligus menyatakan bahwa hasil pelacakan lintasan oleh Korea Selatan dan Jepang keliru. Korea Selatan memperkirakan rudal terbang lebih dari 700 km, sementara Jepang memperkirakan jaraknya 680 km. Namun, Korea Utara mengkritik kemampuan deteksi kedua negara. Rodong Sinmun (노동신문), surat kabar Partai Buruh Korea, melaporkan bahwa rudal itu mengenai titik sasaran yang telah ditetapkan sejauh 1.000 km di Laut Timur.
Pernyataan Kim Jong Un bukan sekadar penilaian atas latihan yang disaksikannya, melainkan penegasan kembali bahwa Korea Utara akan terus menjalankan kebijakan memperkuat daya tangkal nuklir. Daya tangkal nuklir berarti kemampuan militer untuk mencegah atau menghalangi serangan pihak lawan. Kim Jong Un mengatakan bahwa upaya untuk membuat pihak lawan memahami keandalan dan daya mematikan sarana serangan strategis harus terus dilakukan. Putrinya, Kim Ju Ae, dan istrinya, Ri Sol Ju, juga hadir di lokasi latihan.
Arti perkembangan ini
Pengumuman ini menarik perhatian bukan hanya karena rudalnya, tetapi juga karena menempatkan penolakan dialog antar-Korea dan kebijakan nuklir dalam satu rangkaian. Hong Min, peneliti senior di Institut Korea untuk Unifikasi (통일연구원), menafsirkan bahwa Kim Yo Jong secara langsung mengaitkan uji coba rudal itu secara politis dengan situasi ledakan ranjau. Ini dapat dibaca sebagai penyampaian bahwa Korea Utara tidak akan menanggapi tawaran dialog, bersamaan dengan pengungkapan aktivitas militernya.
Pesan itu mungkin juga ditujukan pada hubungan Korea Utara-AS. Jang Yong-seok, peneliti tamu di Institut Studi Perdamaian dan Unifikasi Universitas Nasional Seoul (서울대 통일평화연구원), mengatakan bahwa Korea Utara bermaksud agar denuklirisasi tidak dimasukkan sebagai agenda dalam perundingan Korea Utara-AS di masa mendatang. Namun, ini adalah penafsiran seorang ahli, bukan berarti perundingan akan berlangsung atau agendanya sudah ditetapkan. Dalam pidato yang dibacakan pada upacara peringatan 19 tahun Deklarasi KTT Antar-Korea 4 Oktober (10·4 남북정상선언) pada tanggal 4, Presiden Lee Jae-myung mengatakan bahwa lingkaran setan permusuhan dan konfrontasi harus diputus. Hal ini juga memperlihatkan kesenjangan antara pesan kedua pihak.
Bagi pembaca di Korea Selatan, penting untuk memahami bahwa ketegangan militer dan pilihan diplomatik bukanlah persoalan yang terpisah. Misalnya, jika upaya untuk kembali mendorong dialog antar-Korea sedang dilakukan, pernyataan Korea Utara yang menolak dialog dan pernyataannya tentang penguatan daya tangkal nuklir dapat menjadi sinyal yang perlu dipertimbangkan bersama saat menilai kondisi bagi dialog. Namun, laporan yang tersedia tidak memberikan dasar untuk langsung menafsirkan hal ini sebagai tanda bahwa bentrokan militer sudah dekat atau bahwa perundingan dipastikan tidak mungkin berlangsung.
Perbedaan dalam pemberitaan
Berbagai laporan umumnya menyebut wahana yang diluncurkan kali ini sebagai “rudal hipersonik”, tetapi istilah yang digunakan media Korea Utara dilaporkan sebagai “rudal strategis jarak menengah” atau “sistem senjata strategis hipersonik”. Perbedaan nama saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa yang dimaksud adalah rudal yang berbeda.
Jarak tempuh yang dilaporkan juga berbeda menurut pihak yang mengumumkannya. Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (합동참모본부) dilaporkan memperkirakan jaraknya lebih dari 700 km, Kementerian Pertahanan Jepang (방위성) 680 km, sedangkan Korea Utara mengklaim rudal itu mengenai titik sasaran yang telah ditetapkan sejauh 1.000 km. Laporan yang ada tidak memastikan apakah angka-angka ini menggunakan metode pengukuran dan acuan yang sama. Karena itu, salah satunya tidak boleh dianggap sebagai jarak tempuh aktual yang telah terverifikasi.
Fakta yang terkonfirmasi dan hal yang belum diketahui
Fakta yang terkonfirmasi
- Pada tanggal 4, Korea Utara melaporkan bahwa mereka menggelar latihan peluncuran rudal pada dini hari tanggal 3, dengan disaksikan oleh Kim Jong Un.
- Kim Jong Un mengatakan bahwa latihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan daya tangkal terhadap perang nuklir dan bahwa kebijakannya tidak berubah.
- Kim Yo Jong menolak tawaran dialog dengan Korea Selatan dan menyatakan bahwa hasil pelacakan lintasan oleh Korea Selatan dan Jepang keliru.
- Presiden Lee Jae-myung menyerukan dialog pada tanggal 1 dan, pada tanggal 4, menyatakan bahwa lingkaran setan permusuhan dan konfrontasi harus diputus.
Hal yang belum diketahui
- Apakah lintasan terbang dan kinerja aktual rudal telah diverifikasi secara independen oleh pihak luar.
- Bagaimana keputusan akan dibuat mengenai apakah pertemuan tingkat tinggi Korea Utara-AS akan berlangsung dan, jika berlangsung, apakah denuklirisasi akan menjadi agendanya.
- Perubahan konkret apa yang akan ditimbulkan oleh latihan yang diumumkan Korea Utara terhadap cara berdialog antara kedua Korea atau antara Korea Utara dan AS di masa mendatang.
Hal yang perlu diperhatikan pembaca
- Perhatikan bagaimana hasil deteksi otoritas Korea Selatan dan Jepang serta pengumuman Korea Utara dijelaskan lebih lanjut dalam laporan berikutnya. Penting untuk tidak memperlakukan angka yang berbeda seolah-olah semuanya menunjukkan satu jarak tempuh yang sudah pasti.
- Berita terkait dialog antar-Korea dan perundingan Korea Utara-AS perlu dibaca dengan membedakan pengumuman yang telah terkonfirmasi mengenai penyelenggaraan, pihak-pihak yang terlibat, dan agenda, dari perkiraan para ahli.
- Memeriksa apakah aksi unjuk kekuatan Korea Utara dan tawaran dialog pemerintah Korea Selatan masing-masing diikuti langkah lanjutan akan membantu memahami ketegangan saat ini sekaligus pilihan diplomatik.
Referensi
- Liputan lain yang dirujuk: hani.co.kr
- Liputan lain yang dirujuk: hani.co.kr




















