Kontradiksi yang menyertai kehidupan sehari-hari
Menjadi dewasa sering berarti belajar hidup dengan dua hal yang tampak bertentangan. Seorang anak mungkin kesulitan memahami bagaimana seseorang dapat menyayangi anak ayam yang lucu sekaligus menikmati ayam goreng. Orang dewasa, sebaliknya, kerap menerima pertentangan semacam itu sebagai bagian biasa dari hidup.
Pertentangan tidak hanya muncul dalam pilihan makanan. Kita dapat mendukung keadilan, tetapi tetap menikmati kemudahan yang dihasilkan oleh sistem yang tidak adil. Kita juga bisa menganggap alam perlu dilindungi, sementara kegiatan harian kita ikut menambah tekanan terhadap lingkungan.
Menyadari kontradiksi dalam diri bukan berarti kita tidak peduli. Kesadaran itu dapat menjadi awal untuk bertanya: bagian mana dari hidup kita yang masih bisa diubah?
Peduli pada iklim, tetapi tetap menikmati kenyamanan
Krisis iklim—perubahan jangka panjang pada suhu dan pola cuaca yang terutama dipercepat oleh aktivitas manusia—sering terasa seperti persoalan besar yang jauh dari kehidupan pribadi. Namun, dampaknya dapat terlihat dalam bencana seperti banjir, yang paling berat dirasakan oleh masyarakat dengan sumber daya dan perlindungan terbatas.
Seseorang bisa merasa cemas melihat bencana dan mengkritik pembangunan yang mengabaikan dampak lingkungan. Pada saat yang sama, ia mungkin menyalakan pendingin ruangan, membeli kopi dingin, dan memakai ponsel dengan komponen elektronik terbaru. Kebiasaan itu terasa kecil jika dilihat satu per satu, tetapi menjadi bagian dari pola produksi dan konsumsi yang lebih luas.
Kenyataan ini tidak serta-merta menjadikan kepedulian terhadap iklim palsu. Sebaliknya, hal itu menunjukkan bahwa kehidupan sehari-hari dibentuk oleh banyak kebutuhan, kebiasaan, dan pilihan yang tidak selalu sejalan dengan keyakinan kita. Menuntut diri sendiri agar langsung hidup tanpa dampak lingkungan apa pun bisa terasa mustahil, tetapi mengabaikan dampak tersebut juga bukan jawaban.
Pilihan pribadi dan sistem yang lebih besar
Perubahan gaya hidup memang berarti, tetapi persoalan lingkungan tidak hanya bergantung pada keputusan seorang konsumen. Ketersediaan transportasi umum, sumber energi, desain kota, dan cara barang diproduksi turut membentuk pilihan yang dapat diambil seseorang.
Karena itu, usaha seperti membawa botol minum sendiri dapat menjadi langkah kecil yang masuk akal, bukan penyelesaian tunggal atas krisis iklim. Tindakan tersebut berguna ketika disertai kesadaran bahwa perubahan yang lebih luas juga memerlukan kebijakan dan tanggung jawab bersama.
Eula Biss dan ketidakbersalahan yang mustahil
Dalam Having and Being Had karya penulis Amerika Eula Biss, penulis menelusuri ketegangan yang ia rasakan sebagai bagian dari kalangan terdidik berkulit putih di tengah kapitalisme. Kapitalisme adalah sistem ekonomi yang banyak bertumpu pada kepemilikan pribadi dan kegiatan mencari keuntungan.
Biss dapat mengkritik ketimpangan ekonomi dan kekerasan dalam tatanan keuangan, tetapi ia juga menjalani kehidupan yang dibentuk oleh sistem tersebut. Ia membeli rumah dan membayar pinjaman rumah, mempertimbangkan investasi untuk masa pensiun, serta membuat pilihan sebagai konsumen dengan selera dan kenyamanan tertentu.
Buku itu tidak menyamakan kritik terhadap sistem dengan kebebasan penuh dari sistem tersebut. Orang yang hidup di dalam suatu tatanan ekonomi tetap perlu memenuhi kebutuhan, membayar tempat tinggal, dan merencanakan masa depan. Itulah sebabnya Biss mencatat keterlibatannya sendiri dengan terus terang, bukan untuk mengaku telah menemukan cara hidup yang sepenuhnya bersih.
- Kritik terhadap ketimpangan dapat muncul bersamaan dengan keterlibatan dalam ekonomi yang timpang.
- Kebutuhan praktis, seperti tempat tinggal dan persiapan masa tua, membatasi pilihan yang tersedia.
- Mengakui keterlibatan diri membantu kita melihat persoalan dengan lebih jujur, meski tidak otomatis menyelesaikannya.
Karl Marx: pemikir revolusioner yang juga mengurus kehidupan keluarga
Biss juga membahas Karl Marx, pemikir yang terkenal karena kritiknya terhadap kapitalisme. Kisah dalam buku itu menggambarkan sisi kehidupan yang lebih rumit: Marx menerima warisan, menggunakan uang untuk membeli rumah yang lebih besar, dan meminta bantuan Friedrich Engels ketika kesulitan membayar kebutuhan hidup.
Marx juga berusaha mempertahankan penampilan hidup borjuis—gaya hidup kelas menengah atas yang dikaitkan dengan kenyamanan dan status sosial. Menurut kisah yang disajikan buku tersebut, ia mengkhawatirkan kesempatan putri-putrinya untuk mendapatkan pasangan yang baik. Anak-anaknya mengikuti pelajaran seni, berkuda, dan musik, sementara keluarga itu mengadakan pesta dansa di rumah baru.
Marx tidak ingin hidup sebagai pekerja bergaji, tetapi ia tahu keputusan itu dapat memengaruhi masa depan putri-putrinya. Ia berusaha menjaga kehidupan keluarga mereka agar tampak mapan.
Kisah itu tidak harus dibaca sebagai upaya membatalkan seluruh pemikiran Marx. Ia memperlihatkan bahwa seseorang yang mengkritik suatu sistem tetap harus menghadapi tuntutan hidup di dalam sistem tersebut. Ideologi—sekumpulan gagasan tentang bagaimana masyarakat seharusnya diatur—tidak menghapus kebutuhan untuk membayar rumah, membesarkan anak, atau menghadapi harapan sosial pada zamannya.
Virginia Woolf dan batas perjuangan kesetaraan
Virginia Woolf dikenal sebagai penulis yang membela hak perempuan. Dalam esainya A Room of One’s Own, ia menyampaikan pentingnya perempuan memiliki ruang dan kemandirian untuk menulis. Gagasan itu menyoroti bagaimana keterbatasan materi dan kebebasan dapat menghambat kesempatan perempuan untuk berkarya.
Namun, kisah yang dibahas Biss juga menunjukkan sisi yang bertentangan. Woolf meninggalkan tulisan yang berisi kritik dan ejekan terhadap Nellie, perempuan yang bekerja sebagai pelayannya. Pada akhirnya, Woolf memecat Nellie ketika perempuan itu sedang dirawat di rumah sakit.
Buku tersebut merangkum pertentangan itu dengan tajam: Woolf dapat membayangkan kebutuhan perempuan akan ruang pribadi, tetapi tidak memberikan ruang semacam itu kepada Nellie. Perbedaan kelas dan hubungan kerja memengaruhi bagaimana gagasan tentang kebebasan diterapkan dalam kehidupan nyata.
Kisah ini mengingatkan bahwa memperjuangkan kesetaraan di satu bidang tidak otomatis membuat seseorang bebas dari ketidakadilan di bidang lain. Perhatian terhadap kebebasan perempuan, misalnya, belum tentu disertai kesadaran yang sama terhadap kondisi pekerja rumah tangga. Ketimpangan bisa bertahan justru ketika hubungan sehari-hari dianggap wajar dan tidak diperiksa kembali.
Mengakui ketidaksempurnaan tanpa menyerah
Kita sering membayangkan pemikir dan penulis besar sebagai teladan yang selalu hidup sesuai dengan ajaran mereka. Namun, riwayat Marx dan Woolf, sebagaimana diceritakan dalam buku Biss, memperlihatkan bahwa orang dapat menghasilkan gagasan penting sekaligus gagal memenuhi sepenuhnya nilai yang mereka dukung.
Pengakuan atas kegagalan itu tidak berarti semua tindakan sama saja atau kritik kehilangan makna. Sebaliknya, kita dapat membedakan antara menyadari kontradiksi dan memakai kontradiksi sebagai pembenaran. Mengatakan “saya juga tidak sempurna” seharusnya membuka ruang untuk memperbaiki tindakan, bukan menutup pembicaraan tentang dampak yang ditimbulkan.
Dalam praktiknya, usaha memperkecil jarak antara nilai dan tindakan dapat dimulai dengan langkah yang masuk akal:
- Perhatikan kebiasaan yang bertentangan dengan nilai yang kita yakini.
- Pilih perubahan kecil yang dapat dijalankan secara konsisten, seperti membawa botol minum pakai ulang.
- Jangan menganggap tindakan pribadi sudah cukup; dukung pula perubahan yang membuat pilihan lebih baik tersedia bagi banyak orang.
- Tinjau kembali keputusan ketika kita menyadari ada orang lain yang menanggung akibatnya.
Tidak semua orang dapat mengubah seluruh kebiasaannya dalam sekejap. Seseorang mungkin belum sanggup mematikan pendingin ruangan ketika cuaca sangat panas, tetapi tetap dapat mencari cara lain untuk mengurangi dampak dan mendukung kebijakan lingkungan. Yang penting bukan mengaku sudah sepenuhnya bersih, melainkan terus mengingat arah yang ingin dituju.
Tetap mencari yang benar
Hidup dengan kontradiksi bukan kondisi yang hanya dialami satu orang. Kita semua membuat pilihan di tengah keterbatasan, kebutuhan, dan kebiasaan yang sudah terbentuk. Kesadaran itu dapat mendorong kerendahan hati: kita perlu berhati-hati sebelum merasa diri sendiri sepenuhnya benar atau menganggap orang lain tidak peduli.
Namun, menerima bahwa manusia tidak sempurna tidak sama dengan menganggap perubahan sia-sia. Kita tetap bisa berbicara tentang hal yang benar, memercayainya, dan berusaha menerapkannya sedikit demi sedikit. Kadang langkahnya sederhana—membawa botol minum sendiri meski belum mampu mengubah seluruh pola hidup—tetapi langkah itu menjaga komitmen agar tidak berhenti sebagai gagasan.
Kita mungkin tidak dapat menghapus semua kontradiksi dalam hidup. Namun, kita masih dapat mengenalinya, mengingat nilai yang ingin diperjuangkan, dan terus berusaha memperkecil jarak antara keduanya.



















