Mahkamah Agung Amerika Serikat (미국 연방대법원) pada 29 September 2026 mengizinkan penerbangan deportasi tetap berjalan selama legalitas kebijakan deportasi ke negara ketiga ditinjau. Dengan demikian, penerbangan ke Liberia dapat kembali dilanjutkan. Dilaporkan bahwa sedikitnya 20 orang yang dideportasi dari Amerika Serikat telah dipindahkan ke Liberia.
Pemindahan ke Liberia bukan hanya persoalan kebijakan deportasi Amerika Serikat saat ini. Karena terkait dengan masa lalu ketika Amerika berupaya mengirim warga keturunan Afrika yang merdeka dan dianggap ‘tidak diinginkan’ ke negara tersebut, persoalan hak asasi manusia dan konstitusional yang menyertai kebijakan ini perlu ditinjau bersama konteks sejarahnya.
Latar belakang dan konteks
Liberia adalah negara di Afrika Barat, kira-kira sebesar negara bagian Ohio. Negara ini disebut sebagai salah satu dari 35 negara yang menerima pembayaran dari pemerintahan Trump untuk menanggung biaya penginapan dan makan bagi warga Amerika Latin dan lainnya yang tinggal di Amerika Serikat tanpa status hukum yang sesuai. Namun, laporan hanya menyebut bahwa beberapa negara penerima diketahui menghadapi masalah korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia; penilaian yang sama tidak diarahkan kepada Liberia.
Menurut artikel tersebut, sebagian besar orang yang menjadi sasaran deportasi tidak memiliki hubungan dengan negara penerima. Seorang warga negara Kolombia yang tiba di Liberia pada 20 Agustus mengatakan kepada PBS bahwa ia belum pernah mendengar tentang Liberia. Kasus ini menunjukkan bahwa setidaknya bagi orang tersebut, tempat kedatangannya adalah lokasi yang asing. Namun, pengalaman satu orang ini tidak dapat digeneralisasi untuk menggambarkan situasi semua orang yang dipindahkan.
Sejarah keterkaitan Liberia dengan kebijakan migrasi Amerika Serikat bermula pada awal 1800-an. Saat itu, para pemimpin Amerika mencari lokasi di pesisir Afrika Barat untuk mengirim orang keturunan Afrika yang merdeka dan dianggap sebagai warga yang tidak diinginkan di Amerika Serikat. American Colonization Society didirikan pada 1816, dan pada 1820 dimulai kampanye migrasi berskala besar untuk membuat orang kulit hitam ‘kembali ke Afrika’.
Para migran awal terdiri atas kaum intelektual, pemimpin gereja, dan pedagang Amerika keturunan Afrika. Artikel tersebut menjelaskan bahwa kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan orang kulit putih Amerika terhadap orang kulit hitam mendorong mereka untuk pergi. Pada saat yang sama, kelompok pemilik budak menguasai mayoritas di Kongres dan menuntut deportasi karena menganggap keberadaan orang kulit hitam merdeka memberi harapan kepada orang-orang yang diperbudak.
Para pemukim awal Amerika menamai tempat tinggal baru mereka ‘Liberia’, yang berarti kebebasan. Pada 1847, permukiman itu merdeka dari kendali American Colonization Society dan menjadi republik merdeka pertama di Afrika. Para pemukim mendirikan desa dan perkebunan di sepanjang pesisir, tetapi wilayah tersebut telah dihuni oleh komunitas pribumi yang jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan ribu orang.
Hingga akhir abad ke-19, sekitar 16.000 orang kulit hitam Amerika telah pindah ke Liberia. Menurut artikel tersebut, banyak di antara mereka pergi bertentangan dengan kehendak mereka sendiri setelah dijanjikan kehidupan yang lebih baik. Ribuan migran juga berasal dari kawasan Karibia, sementara sedikitnya 6.000 orang yang diselamatkan dari kapal-kapal perdagangan budak dikirim ke Liberia oleh Angkatan Laut Amerika Serikat.
Makna berita ini
Keputusan ini mengizinkan penerbangan deportasi tetap berjalan, bukan menetapkan secara final bahwa kebijakan deportasi ke negara ketiga itu sah. Artikel tersebut juga menyebutkan kemungkinan bahwa kebijakan ini pada akhirnya dinyatakan inkonstitusional. Jadi, hal yang dapat dipastikan saat ini bukanlah nasib hukum kebijakan tersebut, melainkan bahwa penerbangan boleh terus berjalan selama Mahkamah Agung meninjau legalitasnya.
Bagi orang-orang yang terdampak kebijakan ini, hubungan mereka dengan negara tujuan dapat menjadi persoalan penting. Laporan bahwa sebagian besar orang yang menjadi sasaran deportasi tidak memiliki hubungan dengan negara penerima, serta kasus seorang warga Kolombia yang mengatakan bahwa ia belum pernah mendengar tentang Liberia, menunjukkan bahwa pemindahan tersebut mungkin tidak sekadar perpindahan dari satu negara ke negara lain. Namun, artikel sumber tidak menjelaskan status hukum dan kondisi hidup yang akan mereka hadapi di Liberia.
Konteks sejarah ini bukan untuk menyimpulkan bahwa kebijakan saat ini sama dengan kebijakan masa lalu. Namun, fakta bahwa Amerika dahulu menjalankan kampanye untuk memisahkan orang kulit hitam dari masyarakat Amerika dan mengirim mereka ke Afrika, serta bahwa kampanye itu didorong oleh motif politik yang memandang keberadaan orang kulit hitam merdeka sebagai ancaman, memperluas pembahasan tentang pemindahan ke negara ketiga saat ini. Hal ini menarik perhatian pada pentingnya mempertanyakan siapa yang dikirim ke negara lain, dengan alasan apa, dan melalui prosedur seperti apa.
Sebagai contoh, jika orang yang menjadi sasaran deportasi tidak memiliki hubungan dengan negara penerima, pemindahan ke negara tersebut dapat memutus hubungan mereka dengan lingkungan sosial yang sudah dikenal. Ini merupakan penjelasan hipotetis; artikel saja tidak cukup untuk mengetahui dampak yang benar-benar dialami oleh orang-orang yang dipindahkan ke Liberia.
Fakta yang telah dikonfirmasi dan hal yang belum diketahui
Fakta yang telah dikonfirmasi
- Pada 29 September 2026, Mahkamah Agung mengizinkan penerbangan deportasi tetap berjalan selama legalitas kebijakan tersebut ditinjau.
- Keputusan ini memungkinkan penerbangan ke Liberia kembali dilanjutkan, dan sejauh ini sedikitnya 20 orang telah dipindahkan ke Liberia.
- Liberia termasuk di antara 35 negara yang menerima pembayaran dari pemerintahan Trump untuk menanggung biaya penginapan dan makan.
- Liberia memiliki sejarah yang terkait dengan kampanye migrasi orang kulit hitam dari Amerika pada abad ke-19.
Hal yang belum diketahui
- Bagaimana Mahkamah Agung pada akhirnya akan memutuskan apakah kebijakan deportasi ke negara ketiga bertentangan dengan konstitusi.
- Besaran pembayaran yang diberikan pemerintah Amerika Serikat kepada Liberia dan rincian kesepakatan antara kedua negara.
- Status hukum dan kondisi hidup orang-orang yang dipindahkan ke Liberia.
Hal yang perlu dicermati pembaca
- Perlu dicermati apakah Mahkamah Agung akan mengeluarkan putusan akhir dan bagaimana putusan tersebut akan memengaruhi penerbangan deportasi.
- Perlu dilihat apakah rincian pembayaran dan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Liberia akan diumumkan. Artikel saat ini tidak memuat rincian spesifiknya.
- Perlu dipantau apakah informasi tambahan mengenai status hukum dan kondisi hidup orang-orang yang dipindahkan akan dipublikasikan. Berdasarkan laporan saat ini saja, situasi mereka di Liberia sulit dipastikan.



















